Gadis Molek itu Bernama Pemilih Pemula

Partai politik (parpol) harus putar otak untuk memenangi pemilihan umum legislatif (Pileg) 2014. Salah satu instrumen yang tidak boleh dilupakan adalah pasar pemilih pemula. Diperkirakan pada Pileg 2014 jumlah pemilih pemula mendekati angka 20 juta. Angka ini sangat potensial untuk mendongkrak perolehan suara parpol.

Besarnya ceruk ini tentu menarik perhatian semua parpol. Untuk mendapatkan simpati dari pemilih pemula itu partai politik (parpol) harus putar otak. Parpol harus mengeluarkan jurus pamungkas untuk meyakinkan mereka agar mau menjatuhkan pilihan politik kepada mereka. Tentu saja ini bukan perkara mudah.

Pemilih pemula dapat saja diasosiasikan sebagai gadis molek yang diperebutkan pemuda—parpol. Gadis molek ini belum pernah sama sekali menjatuhkan pilihan kepada pemuda manapun—pilihan politik. Diperlukan perhatian (treatment) khusus untuk menarik perhatian mereka. Dan, apabila sudah mendapatkan perhatian mereka—pilihan politik, jangan sesekali mencoba berhianat. Dikhawatirkan cinta pada pandangan pertama akan berujung benci.

Pada survei pemilihan kepala daerah DKI Jakarta (Pilgub DKI Jakarta) 2012 periode April-Mei, tingkat partisipasi pemilih pemula dalam menggunakan hak suara terbilang kecil. Dari 3.10 persen pemilih pemula yang terpilih dan dijadikan sampel responden survei, diketahui 2 persen dari mereka tidak akan menggunakan hak pilih atau hak politik. Alasan mereka adalah tidak mengenal para calon gubernur dan wakil gubernur serta tidak mengetahui secara pasti dan detil prestasi dari masing-masing pasangan cagub-cawagub (succes story).

Dari fenomena tersebut diketahui, teknik kampanye atau teknik komunikasi yang digunakan para pasangan cagub-cawagub belum mampu menyentuh atau mensasar pemilih pemula. Pada pasangan cagub-cawagub praktis menggunakan konsep konvensional yang lazim digunakan disejumlah pilkada.

Praktis, hanya relawan dari pendukung pasangan Jokowi-Ahok yang menggunakan teknik komunikasi yang mensasar pemilih pemula. Flash Mob yang mereka lakukan di Bundaran HI saat Car Free Day cukup efektif dan menyedot perhatian publik.

Begitu juga dengan penggunaan lagu Theme Song kampanye mereka dari lagu One Direction. Lagu dari Boy Band asal Inggris itu yang berjudul What Makes You Beatiful dan kemudian dirubah lirik juga memepengaruhi persepsi publik, terutama pemilih pemula, terhadap Jokowi-Ahok.

Flash Mob dapat diartikan sebagai sekelompok orang yang berkumpul pada waktu dan tempat yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu hal seperti lelucon konyol. Massa Flash Mob diatur melalui komunitas online, webblog, newsgroup, e-mail surat berantai atau melalui telepon (Wikipedia).

Aksi Flash Mob itu kemudian diposting sosial media, Youtube. Pilihan pengunakan teknik komunikasi itu terbilang tepat. Publik Jakarta makin mengenal pasangan ini dengan karakteristik baju kotak-kotak, blusukan, dan lainnya.

Lantas bagaimana dengan kontestasi Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014?  Pada survei nasional Oktober-November 2012 periode April-Mei, tingkat partisipasi pemilih pemula dalam menggunakan hak suara lebih besar. Dari 9,8 persen pemilih pemula yang terpilih dan dijadikan sampel responden survei, diketahui 2,1 persen dari mereka tidak akan menggunakan hak pilih atau hak politik. Alasan mereka adalah karena figur ketua umum partai, program yang ditawarkan harus pro rakyat, dan bersih dari korupsi.

Dari data itu dapat disimpulkan bahwa parpol harus berani memenuhi keinginan tiga alasan dari pemilih pemula. Dalam konsepsi ini sama halnya dengan seorang gadis molek minta kesanggupan sang pemuda untuk tidak berbohong, tidak berhianat, dan berani melindungi dirinya dari gangguan orang lain.

Tentu tidak hanya berani berjanji saja. Parpol juga harus ke luar dari model kampanye konvensional. Parpol harus menggunakan teknik kampanye dan mutakhir agar dapat menarik perhatian dari pemilih pemula. Serta dapat meyakinkan pemilih pemula bahwa parpol yang mereka pilih kelak tidak akan berbohong, tidak berhianat, dan berani melindungi dirinya dari gangguan orang lain.

PDI Perjuangan, Partai Golkar, Partai Gerindra, dan Partai Hanura adalah sejumlah partai yang diprediksi dapat meraih simpati pemilih pemula. Dari 9,8 persen pemilih pemula yang terpilih dan dijadikan sampel responden survei, mereka telah menjatuhkan pilihan politik mereka kepada keempat partai tersebut.

Tentu saja, pilihan tersebut tersebut bisa saja berubah. Dengan catatan, parpol dapat menggunakan serta menemukan formulasi teknik kampanye dan komunikasi yang cocok dan sesuai dengan karakteristik pemilih pemula. Pemilihan program komunikasi teknik viral dan serangan udara seperti penggunaaan web, email campaign, advertising, social media seperti Facebook, Twitter, Path, Instragram, atau lainnya.

Sedangkan untuk serangan darat, parpol dapat melakukan metoda canvassing. Seperti menyelipkan program kursus kilat. Seperti kursus komputer, pelatihan pembuatan blog, kursus bahasa inggris, atau melakukan uji simulasi ujian nasional atau try out.

Teknik-teknik seperti dapat digunakan sekaligus pendidikan politik sejak dini kepada pemilih pemula. Atau apabila memunyai energi lebih dapat melakukan Flash Mob ala relawan Jokowi-Ahok. Pada tujuannya akhirnya adalah isi materi dari teknik kampanye dan komunikasi tersebut dapat menstimulasi pemilih pemula untuk menggunakan hak pilihnya. Karena ini adalah bagian tugas berat parpol.

sumber http://www.antarabengkulu.com/berita/14045/parpol-perlu-strategi-khusus-gaet-pemilih-pemula dan http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=327603